Pak Raden, Pemuda dan Pahlawan Budaya - Indonesia berduka atas wafatnya sosok maestro dongeng negeri, Drs Suyadi atau yang akrab dikenal pak Raden dalam usia ke 83 tahun pada Jumat, 30 Oktober lalu. Kehilangan sosok pak Raden tentu saja kehilangan sosok inspiratif yang bisa dijadikan teladan bagi masyarakat Indonesia. Aktor dibalik kesuksesan serial Si Unyil yang mewarnai dunia anak-anak sejak tahun 1980-an. Tokoh Si Unyil dan Pak Raden menjadi tidak bisa dipisahkan dalam benak kita. Lewat karya-karya yang bermanfaat, kontribusi pak Raden untuk negeri telah mampu mengubah hidup banyak orang.
Maka tidak heran, sepeninggalnya beliau muncul wacana dari para netizen untuk menjadikan pak Raden sebagai pahlawan budaya Indonesia. Bagaimana tidak, tokoh Si Unyil yang ia ciptakan tidak hanya sekedar tokoh yang digunakannya untuk menghibur masyarakat Indonesia, lebih daripada itu ia manfaatkan juga sebagai fasilitator untuk menanamkan nilai-nilai moral, tata krama, terlebih memperkenalkan budaya Indonesia lewat caranya sendiri. Atas kontribusinya yang besar, tidak salah jika banyak masyarakat yang mengusulkan beliau untuk dijadikan pahlawan budaya.
Karenanya, sepeninggal beliau, timbul pertanyaan yang mesti kita jawab bersama. Adakah sosok yang mampu menggantikan peran Pak Raden dalam mengangkat budaya Indonesia ke permukaan lewat kontribusi yang nyata? Barangkali kita tidak perlu menunjuk atau pun mengusulkan sosok pengganti beliau. Sebab, satu hal yang mesti kita pahami, masing-masing dari kita semua memiliki potensi yang sama untuk memberikan kontribusi dalam mengikuti jejak pak Raden. Dengan kata lain, kita semua mampu menjadi pahlawan budaya bagi negeri tercinta ini.
Inilah tugas kita bersama, tugas masyarakat Indonesia pada umumnya, tugas para pemuda dan sobat budaya pada khususnya. Pemuda sebagai kaum pembaharu harus bisa menegakkan kembali tiang-tiang budaya yang telah rapuh. Kaum pemuda sebagai harapan penerus adalah kunci atas berlanjutnya estafet budaya bangsa untuk tetap eksis supaya tidak hilang tergerus zaman. Warisan budaya Indonesia diturunkan pada kaum pemuda untuk melindungi nilai-nilai budaya itu agar senantiasa menjadi ciri khas sebagai sebuah bangsa. Bagaimana pun bangsa yang kehilangan budayanya akan menjadi sebuah bangsa yang kehilangan akan identitas dan jati dirinya. Tentu kita tidak ingin hal itu terjadi pada bangsa Indonesia tercinta ini. Terlagi hal itu akan menciderai sumpah pemuda yang menjadi ikrar para pejuang terdahulu. Itu artinya, kita tidak benar-benar menghargai atas segenap perjuangan mereka dalam memperjuanga kemerdekaan Indonesia.
Meskipun harus kita akui, geliat para kaum muda dewasa ini tidak mencerminkan akan pemuda yang bangga dan cinta dengan budayanya. Lihat saja banyak kaum muda lebih bangga mengenakan budaya yang mengandung unsur-unsur modernisme, budaya yang dibawah dari barat. Di mana kalau kita nilai lewat akal sehat justru menawarkan kemunduran akan moral. Baik dari cara berpakaian, perilaku, sampai pada nilai-nilai tata-krama yang mulai jauh dari ciri khas bangsa Indonesia. Tentu jika hal ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin, kita juga akan menjadi bangsa yang lupa akan identitasnya. Parahnya, generasi selanjutnya tidak lagi tahu akan identitas bangsanya.
Apa yang harus kita lakukan? Tidak lain kita harus mencintai budaya kita sendiri. Banyak yang tidak menyadari betapa kayanya Indonesia akan warisan budaya. Saking kayanya budaya Indonesia, sampai-sampai kita saksikan negara lain merasa iri atas budaya Indonesia, lalu mereka coba mengklaim budaya kita sebagai bagian dari budayanya. Apa yang dilakukan negara lain dalam mengklaim budaya Indonesia adalah bukti kesadaran mereka akan pentingnya suatu budaya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Jika negara lain saja merasa iri dan sadar atas pentingnya suatu budaya itu, maka mengapa kita lantas tidak peduli akan budaya sendiri.
Di sinilah pentingnya Gerakan Sejuta Data Budaya untuk kita dukung dan kita jalankan dalam menjaga keberadaan warisan budaya bangsa Indonesia. Karena itu, para pemuda harus mulai mencintai budaya terutama dari daerahnya masing-masing dalam upaya melestarikan budaya itu agar tidak tergeser dengan pengaruh-pengaruh dari luar. Tidak sekedar mendokumentasikan warisan budaya itu ke dalam sebuah data yang terjaga informasinya dari kehilangan dan kecenderungan terlupakan. Tetapi wujud konkret dari upaya menjaga warisan budaya itu harus kita tampakkan dalam kegiatan sehari-hari. Dengan langkah ini mudah-mudahan warisan budaya Indonesia akan terus terjaga sekalipun tokoh (pahlawan) budaya di era sebelum-sebelumnya telah banyak meninggalkan kita.
![]() |
| Pak Raden src: papasemar.com |
Maka tidak heran, sepeninggalnya beliau muncul wacana dari para netizen untuk menjadikan pak Raden sebagai pahlawan budaya Indonesia. Bagaimana tidak, tokoh Si Unyil yang ia ciptakan tidak hanya sekedar tokoh yang digunakannya untuk menghibur masyarakat Indonesia, lebih daripada itu ia manfaatkan juga sebagai fasilitator untuk menanamkan nilai-nilai moral, tata krama, terlebih memperkenalkan budaya Indonesia lewat caranya sendiri. Atas kontribusinya yang besar, tidak salah jika banyak masyarakat yang mengusulkan beliau untuk dijadikan pahlawan budaya.
Karenanya, sepeninggal beliau, timbul pertanyaan yang mesti kita jawab bersama. Adakah sosok yang mampu menggantikan peran Pak Raden dalam mengangkat budaya Indonesia ke permukaan lewat kontribusi yang nyata? Barangkali kita tidak perlu menunjuk atau pun mengusulkan sosok pengganti beliau. Sebab, satu hal yang mesti kita pahami, masing-masing dari kita semua memiliki potensi yang sama untuk memberikan kontribusi dalam mengikuti jejak pak Raden. Dengan kata lain, kita semua mampu menjadi pahlawan budaya bagi negeri tercinta ini.
Inilah tugas kita bersama, tugas masyarakat Indonesia pada umumnya, tugas para pemuda dan sobat budaya pada khususnya. Pemuda sebagai kaum pembaharu harus bisa menegakkan kembali tiang-tiang budaya yang telah rapuh. Kaum pemuda sebagai harapan penerus adalah kunci atas berlanjutnya estafet budaya bangsa untuk tetap eksis supaya tidak hilang tergerus zaman. Warisan budaya Indonesia diturunkan pada kaum pemuda untuk melindungi nilai-nilai budaya itu agar senantiasa menjadi ciri khas sebagai sebuah bangsa. Bagaimana pun bangsa yang kehilangan budayanya akan menjadi sebuah bangsa yang kehilangan akan identitas dan jati dirinya. Tentu kita tidak ingin hal itu terjadi pada bangsa Indonesia tercinta ini. Terlagi hal itu akan menciderai sumpah pemuda yang menjadi ikrar para pejuang terdahulu. Itu artinya, kita tidak benar-benar menghargai atas segenap perjuangan mereka dalam memperjuanga kemerdekaan Indonesia.
Meskipun harus kita akui, geliat para kaum muda dewasa ini tidak mencerminkan akan pemuda yang bangga dan cinta dengan budayanya. Lihat saja banyak kaum muda lebih bangga mengenakan budaya yang mengandung unsur-unsur modernisme, budaya yang dibawah dari barat. Di mana kalau kita nilai lewat akal sehat justru menawarkan kemunduran akan moral. Baik dari cara berpakaian, perilaku, sampai pada nilai-nilai tata-krama yang mulai jauh dari ciri khas bangsa Indonesia. Tentu jika hal ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin, kita juga akan menjadi bangsa yang lupa akan identitasnya. Parahnya, generasi selanjutnya tidak lagi tahu akan identitas bangsanya.
Apa yang harus kita lakukan? Tidak lain kita harus mencintai budaya kita sendiri. Banyak yang tidak menyadari betapa kayanya Indonesia akan warisan budaya. Saking kayanya budaya Indonesia, sampai-sampai kita saksikan negara lain merasa iri atas budaya Indonesia, lalu mereka coba mengklaim budaya kita sebagai bagian dari budayanya. Apa yang dilakukan negara lain dalam mengklaim budaya Indonesia adalah bukti kesadaran mereka akan pentingnya suatu budaya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Jika negara lain saja merasa iri dan sadar atas pentingnya suatu budaya itu, maka mengapa kita lantas tidak peduli akan budaya sendiri.
Di sinilah pentingnya Gerakan Sejuta Data Budaya untuk kita dukung dan kita jalankan dalam menjaga keberadaan warisan budaya bangsa Indonesia. Karena itu, para pemuda harus mulai mencintai budaya terutama dari daerahnya masing-masing dalam upaya melestarikan budaya itu agar tidak tergeser dengan pengaruh-pengaruh dari luar. Tidak sekedar mendokumentasikan warisan budaya itu ke dalam sebuah data yang terjaga informasinya dari kehilangan dan kecenderungan terlupakan. Tetapi wujud konkret dari upaya menjaga warisan budaya itu harus kita tampakkan dalam kegiatan sehari-hari. Dengan langkah ini mudah-mudahan warisan budaya Indonesia akan terus terjaga sekalipun tokoh (pahlawan) budaya di era sebelum-sebelumnya telah banyak meninggalkan kita.

Komentar
Posting Komentar