"Dollar naik Rp 14.000, dollar naik Rp 14.021, dollar naik, naik dan naik" Begitulah yang terdengar akhir-akhir ini yang semuanya di mulai dari The Fed alias bank sentral Amerika Serikat dengan kabar kenaikan suku bunga acuan. Begitu juga dengan bank sentral China melakukan devaluasi untuk mencapai target penjualannya di pasar internasional. Melihat tersebut tentu berharap perekonomian Indonesia bisa membaik.
Namun yang terjadi malahan semakin tinggi harga dollar yang membuat investor khawatir kedepannya. Kekhawatiran ini beralasan melihat Indonesia yang lebih sering mengimpor daripada mengekspor yang bertujuan untuk konsumsi membuat perekonomian tergantung pada dunia luar. Tetapi masalah ini bukan hanya dialami negara Indonesia saja negara berkembang lain pun ikut merasakannya seperti Meksiko, Afrika Selatan, Brasil bahkan Malaysia juga merasakannya sehingga persoalan ini bukan hanya milik Indonesia saja. Langkah-langkah yang diusut oleh pemerintah dan bank sentral kita juga terbilang bagus dengan mengajak berbagai lapisan untuk tetap percaya dengan rupiah, salah satunya membangun industri manufaktur yang cocok untuk komoditas sekaligus mengubah pola konsumsi menjadi produksi.
Hal itu hanya berlaku bagi pengusaha, bagaimana dengan pedagang apa yang harus dilakukan? Tentu bisa dengan berhemat dagangan sehingga masyarakat sekitar pun ikut berhemat sambil sibuk mencari bahan lain sebagai alternatif konsumsi, begitu juga dengan pedangang untuk mencari bahan produksi.
Namun dari semua itu bagaimana pula dengan pelaku dunia online seperti jual beli online, para freelance dan lainnya. Ya bisa saja selama bertujuan untuk memproduksi boleh saja sebab dengan melakukan produksi di dunia online membantu untuk membangun perekonomian negara kita.
Nah sekarang masih merasa jelek sama Rupiah? Percaya aja pasti bisa memenuhi kebutuhan kita kok, kalo gak percaya ya bantu ajalah kan ini negeri kita sendiri apa salahnya membantu untuk membangun negeri ini. Sekali lagi yuk bangun negeri dengan apa yang dimiliki walaupun cuma langkah hemat sekalipun karena ingat negeri kita ini masih belum menuju krisis seperti 1998 pasti masih bisa diperjuangkan.
![]() |
| src: harianindo.com |
Namun yang terjadi malahan semakin tinggi harga dollar yang membuat investor khawatir kedepannya. Kekhawatiran ini beralasan melihat Indonesia yang lebih sering mengimpor daripada mengekspor yang bertujuan untuk konsumsi membuat perekonomian tergantung pada dunia luar. Tetapi masalah ini bukan hanya dialami negara Indonesia saja negara berkembang lain pun ikut merasakannya seperti Meksiko, Afrika Selatan, Brasil bahkan Malaysia juga merasakannya sehingga persoalan ini bukan hanya milik Indonesia saja. Langkah-langkah yang diusut oleh pemerintah dan bank sentral kita juga terbilang bagus dengan mengajak berbagai lapisan untuk tetap percaya dengan rupiah, salah satunya membangun industri manufaktur yang cocok untuk komoditas sekaligus mengubah pola konsumsi menjadi produksi.
Hal itu hanya berlaku bagi pengusaha, bagaimana dengan pedagang apa yang harus dilakukan? Tentu bisa dengan berhemat dagangan sehingga masyarakat sekitar pun ikut berhemat sambil sibuk mencari bahan lain sebagai alternatif konsumsi, begitu juga dengan pedangang untuk mencari bahan produksi.
Namun dari semua itu bagaimana pula dengan pelaku dunia online seperti jual beli online, para freelance dan lainnya. Ya bisa saja selama bertujuan untuk memproduksi boleh saja sebab dengan melakukan produksi di dunia online membantu untuk membangun perekonomian negara kita.
Nah sekarang masih merasa jelek sama Rupiah? Percaya aja pasti bisa memenuhi kebutuhan kita kok, kalo gak percaya ya bantu ajalah kan ini negeri kita sendiri apa salahnya membantu untuk membangun negeri ini. Sekali lagi yuk bangun negeri dengan apa yang dimiliki walaupun cuma langkah hemat sekalipun karena ingat negeri kita ini masih belum menuju krisis seperti 1998 pasti masih bisa diperjuangkan.

pake adsense biar tetap senang :D
BalasHapusdoakan aja min biar dapat, ok
Hapus