Adanya qurban di hari raya Idul Adha tak lepas dari kisah nabi Ibrahim dan keluarganya untuk melaksanakan perintah Allah. Kisah-kisahnya pun telah tersebar diberbagai kalangan maupun media salah satunya media online yang saya gunakan ini. Adapun kisahnya dalam al-Qur'an terdapat pada surah Ash-Shaffat: 102, karenanya sudah sepatutnya kita mengambil hikmah dari kisah tersebut.
Bukti kita wajib mengambil hikmahnya telah disebutkan Allah akan keteladanannya dengan firmannya
"Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam (yang dapat dijadikan teladan), qaanitan (patuh kepada Allah), dan hanif, dan dia bukanlah termasuk orang musyrik (yang menyekutukan Allah)." (QS. An-Nahl: 120)
Orang yang Hanif
Hanif artinya bertekad mengikuti kebenaran dan jalan lurus. Nabi Ibrahim adalah seorang yang berpegang teguh terhadap kebenaran, tidak berpaling untuk meninggalkan apalagi melanggar dan memiliki pandangan yang lurus. Tidak pernah terlintas di pikiran beliau untuk meninggalkan agama yang benar ini. jadi sudah sepantasnya kita meneladani beliau dalam berpegang teguh pada ajaran yang benar.
Mudah-mudahan kita bisa mengikuti sifat nabi Ibrahim dan nabi kita, semoga rahmat dan hidayahnya di limpahkan kepada kita semua.
![]() |
| src: abumujahidah.blogspot.co |
Bukti kita wajib mengambil hikmahnya telah disebutkan Allah akan keteladanannya dengan firmannya
إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ
"Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam (yang dapat dijadikan teladan), qaanitan (patuh kepada Allah), dan hanif, dan dia bukanlah termasuk orang musyrik (yang menyekutukan Allah)." (QS. An-Nahl: 120)
Sebagai Teladan
Nabi Ibrahim patut dijadikan teladan, kisahnya dalam menyembeli qurban bersama anaknya menjadi hikmah yang bisa dipetik, salah satunya kesabaran nabi Ibrahim dan Ismail dalam menjalankan perintah Allah. Belum lagi kisah nabi Ibrahim dalam mencari Tuhan patut diteladani.
Patuh kepada Allah
Nabi Ibrahim adalah seorang hamba yang patuh, dimana beliau mendahulukan perintah Allah dengan cara mentaatinya. Siapa yang tidak kenal dengan kisah beliau meninggalkan istrinya (hajar) dan putranya (nabi Ismail), di tanah yang tidak ada satu pun tanda kehidupan. Hal ini menunjukkan bahwa rasa cinta beliau kepada Allah melebihi rasa cintanya kepada istri adan anaknya. Padahal kita tahu bahwa istri dan anak adalah salah satu godaan terbesar di dunia yang bisa menyebabkan seseorang terlalu mencintai dunia dan melalaikan akhiratnya. Allah ta'ala berfirman
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلاَدِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوْهُمْ
"Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya diantara istri-istri dan anak-anak kalian ada yang menjadi musuh bagi kalian, maka hati-hati/waspadalah kalian dari mereka." (QS. At-Taghabun: 14)
Nabi Ibrahim juga melaksanakan perintah Allah, bahkan mendapat dukungan dari putranya, tatkala Allah perintahkan beliau untuk menyembelih anaknya sendiri, yaitu nabi Ismail. Padahal beliau telah lama merindukan untuk memiliki buah hati.
Orang yang Hanif
Hanif artinya bertekad mengikuti kebenaran dan jalan lurus. Nabi Ibrahim adalah seorang yang berpegang teguh terhadap kebenaran, tidak berpaling untuk meninggalkan apalagi melanggar dan memiliki pandangan yang lurus. Tidak pernah terlintas di pikiran beliau untuk meninggalkan agama yang benar ini. jadi sudah sepantasnya kita meneladani beliau dalam berpegang teguh pada ajaran yang benar.
Mudah-mudahan kita bisa mengikuti sifat nabi Ibrahim dan nabi kita, semoga rahmat dan hidayahnya di limpahkan kepada kita semua.

Komentar
Posting Komentar