Mungkin judul ini cocok dengan kita yang sering bermasalah dalam pergaulan, hal yang dipermasalahkan pun bervariasi sesuai tingkatannya. Namun penyelesaiannya terkadang tidak mulus, malah semakin menjadi rumit yang memicu saling menjatuhkan dan berujung kepada kekerasan.
Inilah yang membuat perasaan marah semakin menjadi-jadi, karenanya janganlah marah sebagaimana sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa salam,
"Janganlah marah, bagimu surga." (HR. Thabrani dan dinyatakan shahih dalam kitab shahih At-Targhib no. 2749)
Namun saya disini memohon maaf dikarenakan membawa Islam lewat Hadis, tapi saya disini hanya mengambil baiknya saja yang bertujuan dapat dimanfaatkan oleh berbagai kalangan, seperti ungkapan Ahmad Wahib dalam catatannya:
Disaat kesadaran berkurang, disaat nurani tertutup nafsu, jaga lisan baik-baik, jangan sampai lidah tak bertulang ini, menjerumuskan anda ke lembah kesusahan.
Kecenderungan lain orang marah adalah ingin selalu lebih tinggi dan lebih tinggi. Semakin dituruti, dia semakin ingin lebih tinggi. Dengan posisi lebih tinggi, dia bisa melampiaskan semua amarahnya sepuasnya.
Hal ini yang masih bermasalah hingga sekarang, walaupun sudah ada solusinya tetap juga marah apa lagi melawan orang yang tidak ada sangkut pautnya. Tapi melihat keadaan saat ini ada saat marah bila diperlukan dengan semestinya namun jangan sampai pada kekerasan karena tidak akan menghasilkan apapun. Begitu juga melihat dengan orang yang tidak adil dengan kita ada baiknya membalas dengan hal baik tanpa harus menusuk pikiran dan hatinya untuk berbuat buruk.
Negeri kita yang mempunyai berbagai masalah pun juga cenderung menjatuhkan tanpa ada hasil yang memuaskan kecuali sedikit, seperti kasus korupsi, masalah partai, bencana alam dan hal lain yang berujung saling menunjukkan aib orang lain dan berusaha membuktikannya. Bukan diselesaikan secepat dan sebaik mungkin, malah semakin panjang. Ini perlu adanya usaha untuk mencari cara yang efektif untuk menyelesaikan sikap ini karena sikap ini pula yang membuat bangsa kita terlihat seperti boneka yang tak pernah ada habisnya dimainkan hingga rusak.
Memboikot dalam Rangka Nasehat
Boikot orang muslim, dalam rangka memberikan nasehat kepadanya, bukanlah satu hal yang dilarang. Karena boikot termasuk salah satu bentuk dakwah yang Allah ajarkan. Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam pernah memerintahkannya kepada seluruh sahabatnya, untuk memboikot 3 orang (Ka'ab bin Malik, Hilal bin Umayyah dan Mararah bin rabi') karena tidak ikut perang Tabuk. Sesuai firman Allah subhana wa ta'ala,
"Terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka. Padahal bumi itu luas dan jiwa mereka pun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya." (QS. At-Taubah: 118)
Tiga orang itu, diboikot oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam bersama para sahabat sepulang beliau dari perang Tabuk. Hingga istri mereka diperintahkan untuk menjauhi suaminya.
Peristiwa Ka'ab bin Malik radhiyallaahu 'anhu dan mereka yang diboikot karena tidak mengikuti perang tabuk, dibolehkan menjadi alasan dibolehkannya boikot bagi orang yang melakukan maksiat atau ahli bid'ah.
Ini contoh yang bisa dicoba untuk negeri kita dalam menghadapi sikap bangsa dalam menghadapi masalah, namun ada baiknya menggunakan cara lain sehingga membuat seseorang hingga seluruh masyarakat bisa merasakan indahnya berbagi dan memberi manfaat tanpa ada kekerasan serta pemanfaatan media yang bisa menjadi penyalur kebaikan.
Referensi:
www.ahmadwahib.com/id/index.php/ahmad-wahib/catatan-harian/
www.konsultasisyariah.com/cara-mengendalikan-emosi-dalam-islam/
www.konsultasisyariah.com/tidak-bertegur-sapa-3-hari/
www.muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/agar-tidak-dendam.html
Inilah yang membuat perasaan marah semakin menjadi-jadi, karenanya janganlah marah sebagaimana sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa salam,
لَا تَغْضَبْ وَلَكَ الْجَنَّةُ
"Janganlah marah, bagimu surga." (HR. Thabrani dan dinyatakan shahih dalam kitab shahih At-Targhib no. 2749)
Namun saya disini memohon maaf dikarenakan membawa Islam lewat Hadis, tapi saya disini hanya mengambil baiknya saja yang bertujuan dapat dimanfaatkan oleh berbagai kalangan, seperti ungkapan Ahmad Wahib dalam catatannya:
"Aku bukan nasionalis, bukan katolik, bukan sosialis. Aku bukan buddha, bukan protestan, bukan westernis. Aku bukan komunis. Aku bukan humanis. Aku adalah semuanya. Mudah-mudahan inilah yang disebut muslim. Aku ingin orang menilai dan memandangku sebagai suatu kemutlakan (absolute entity) tanpa menghubung-hubungkan dari kelompok mana saya termasuk serta dari aliran apa berangkat. Memahami manusia sebagai manusia." (Catatan 9 Oktober 1969)Kembali ke pembahasan, bawaan orang marah adalah berbicara tanpa aturan, sehingga bisa jadi dia berbicara sesuatu yang mengundang murka Allah. Karena itulah diam merupakan cara mujarab untuk menghindari timbulnya masalah lain.
Disaat kesadaran berkurang, disaat nurani tertutup nafsu, jaga lisan baik-baik, jangan sampai lidah tak bertulang ini, menjerumuskan anda ke lembah kesusahan.
Kecenderungan lain orang marah adalah ingin selalu lebih tinggi dan lebih tinggi. Semakin dituruti, dia semakin ingin lebih tinggi. Dengan posisi lebih tinggi, dia bisa melampiaskan semua amarahnya sepuasnya.
Hal ini yang masih bermasalah hingga sekarang, walaupun sudah ada solusinya tetap juga marah apa lagi melawan orang yang tidak ada sangkut pautnya. Tapi melihat keadaan saat ini ada saat marah bila diperlukan dengan semestinya namun jangan sampai pada kekerasan karena tidak akan menghasilkan apapun. Begitu juga melihat dengan orang yang tidak adil dengan kita ada baiknya membalas dengan hal baik tanpa harus menusuk pikiran dan hatinya untuk berbuat buruk.
Negeri kita yang mempunyai berbagai masalah pun juga cenderung menjatuhkan tanpa ada hasil yang memuaskan kecuali sedikit, seperti kasus korupsi, masalah partai, bencana alam dan hal lain yang berujung saling menunjukkan aib orang lain dan berusaha membuktikannya. Bukan diselesaikan secepat dan sebaik mungkin, malah semakin panjang. Ini perlu adanya usaha untuk mencari cara yang efektif untuk menyelesaikan sikap ini karena sikap ini pula yang membuat bangsa kita terlihat seperti boneka yang tak pernah ada habisnya dimainkan hingga rusak.
Memboikot dalam Rangka Nasehat
Boikot orang muslim, dalam rangka memberikan nasehat kepadanya, bukanlah satu hal yang dilarang. Karena boikot termasuk salah satu bentuk dakwah yang Allah ajarkan. Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam pernah memerintahkannya kepada seluruh sahabatnya, untuk memboikot 3 orang (Ka'ab bin Malik, Hilal bin Umayyah dan Mararah bin rabi') karena tidak ikut perang Tabuk. Sesuai firman Allah subhana wa ta'ala,
"Terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka. Padahal bumi itu luas dan jiwa mereka pun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya." (QS. At-Taubah: 118)
Tiga orang itu, diboikot oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam bersama para sahabat sepulang beliau dari perang Tabuk. Hingga istri mereka diperintahkan untuk menjauhi suaminya.
Peristiwa Ka'ab bin Malik radhiyallaahu 'anhu dan mereka yang diboikot karena tidak mengikuti perang tabuk, dibolehkan menjadi alasan dibolehkannya boikot bagi orang yang melakukan maksiat atau ahli bid'ah.
Ini contoh yang bisa dicoba untuk negeri kita dalam menghadapi sikap bangsa dalam menghadapi masalah, namun ada baiknya menggunakan cara lain sehingga membuat seseorang hingga seluruh masyarakat bisa merasakan indahnya berbagi dan memberi manfaat tanpa ada kekerasan serta pemanfaatan media yang bisa menjadi penyalur kebaikan.
Referensi:
www.ahmadwahib.com/id/index.php/ahmad-wahib/catatan-harian/
www.konsultasisyariah.com/cara-mengendalikan-emosi-dalam-islam/
www.konsultasisyariah.com/tidak-bertegur-sapa-3-hari/
www.muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/agar-tidak-dendam.html
Komentar
Posting Komentar