Terima kasih Julita Lestari yang telah memberi bantuan
Dalam suatu manajemen, terdapat prinsip-prinsip manajemen yang dijadikan
sebagai acuan dalam menjalankan suatu organisasi. Setiap manajer harus memiliki
komitmen terhadap prinsip- prinsip manajemen ketika mengimplementasikan tugas
dan tanggungjawabnya. Karena dengan prinsip manajemen tersebut akan mendukung
kesuksesan manajer dalam meningkatkan kinerjanya.
Dengan menggunakan prinsip manajemen, manajer dapat menghindari kesalahan-
kesalahan dalam menjalankan pekerjaannya, dan kepercayaan pada diri sendiri pun
akan semakin besar, paling tidak dengan prinsip tersebut manajer dapat
mengurangi ketidak benaran dalam pekerjaannya.
Menurut malayu, prinsip adalah suatu pernyataan fundamental atau kebenaran
umum yang dapat dijadikan pedoman pemikiran dan tindakan. Prinsip sifatnya
permanen, umum dan setiap ilmu pengetahuan memiliki asaa yang mencerminkan
“intisari” kebenaran- kebenaran dasar dalam bidang ilmu tersebut.
Sebagai salah satu prinsip manajemen, unity of command menjadi sangat penting bagi suatu
organisasi karena menurut Henry Fayol, dalam melaksanakan tugas-tugas dan
tanggung jawabnya perlu diarahkan menuju sasarannya. Kesatuan perintah bertalian erat dengan pembagian
kerja.Dalam pelaksanaan kerja bisa saja terjadi adanya dua perintah sehingga
menimbulkan arah yang berlawanan. Oleh karena itu, perlu alur yang jelas dari
mana karyawan mendapatkan wewenang untuk pelaksanaan pekerjaan dan kepada siapa
ia harus mengetahui batas wewenang dan tanggung jawabnya agar tidak terjadi
kesalahan. Pelaksanaan kesatuan perintah
(unity of command)
tidak dapat terlepas dari pembagian kerja, wewenang dan tanggung jawab, serta disiplin.
Kesatuan Perintah (Unity of Command)
Dalam melaksanakan pekerjaan, karyawan harus memperhatikan prinsip kesatuan perintah sehingga pelaksanaan kerja dapat dijalankan dengan baik. Karyawan harus tahu kepada siapa ia harus bertanggung jawab sesuai dengan wewenang yang diperolehnya. Setiap karyawan hanya mendapat satu perintah untuk dapat melakukan suatu pekerjaan dan dari satu atasan saja. Henry Fayol mengatakan kalau seorang karyawan harus bertanggung jawab kepada beberapa atasan akan terjadi kekacauan apalagi bila perintah tersebut berlainan, atau bahkan berlawanan dapat mengakibatkan petunjuk yang bertentangan dan otoritas yang membingungkan.[1] Selain itu, perintah yang datang dari manajer lain kepada serorang karyawan akan merusak jalannya wewenang dan tanggung jawab serta pembagian kerja.
Pada beberapa perusahaan,
perintah-perintah lisan yang berurusan dengan subjek-subjek penting, diulang
kembali oleh penerima perintah untuk meyakinkan kelengkapan dan ketepatannya.
Demikian pula perintah-perintah lisan dapat dikonfirmasikan secara tertulis
apabila penyampaiannya harus diverifikasi dan menjadi dokumentasi. Sekali
perintah telah dikeluarkan, maka pemberi perintah harus melihat apakah perintah
tersebut dilaksanakan atau diabaikan. Cara-cara seperti itu menunjukkan
manajemen yang baik sangat bijaksana untuk memperkenankan adanya variasi dalam
memelihara dan melengkapi perintah-perintah tersebut. [2]Yang
terpenting, bawahan harus tetap memberitahukan segala sesuatunya kepada atasan
mereka, apabila
tidak atasan akan terhalang dalam usaha memberikan perintah. Untuk maksud
tersebut, umumnya dibuat laporan-laporan dan diadakan pertemuan-pertemuan,
namun sering kali kita tidak mencukupi.
Walaupun
demikian, Menurut
George R. Terry dalam Prinsip-Prinsip
Manajemen, perintah dinyatakan secara informal.
Perintah-perintah tersebut dapat berupa:
Kesatuan Perintah (Unity of Command)
Dalam melaksanakan pekerjaan, karyawan harus memperhatikan prinsip kesatuan perintah sehingga pelaksanaan kerja dapat dijalankan dengan baik. Karyawan harus tahu kepada siapa ia harus bertanggung jawab sesuai dengan wewenang yang diperolehnya. Setiap karyawan hanya mendapat satu perintah untuk dapat melakukan suatu pekerjaan dan dari satu atasan saja. Henry Fayol mengatakan kalau seorang karyawan harus bertanggung jawab kepada beberapa atasan akan terjadi kekacauan apalagi bila perintah tersebut berlainan, atau bahkan berlawanan dapat mengakibatkan petunjuk yang bertentangan dan otoritas yang membingungkan.[1] Selain itu, perintah yang datang dari manajer lain kepada serorang karyawan akan merusak jalannya wewenang dan tanggung jawab serta pembagian kerja.
Contoh: Didalam organisasi BEM di
kampus itu harus ada seorang pemimpin yang memanajemen staf-stafnya dan yang
memberikan perintah kapan harus melakukan sebuah pekerjaan agar tujuan
organisasi dapat tercapai. Pemimpin tersebut haruslah satu orang agar tidak
membuat bingung staf-staf yang melakukan pekerjaan.
- Lisan, atau
- Tulisan;
tergantung dari:
a) tingkat kepercayaan antara
pemberi perintah dan penerimanya,
b) hubungan tatap muka dalam
organisasi dan
c) keperluan akan dokumen untuk
referensi dimasa yang akan datang.[3]
Pada beberapa perusahaan, perintah-perintah lisan yang berurusan dengan subyek-subyek penting, diulang kembali oleh penerima perintah untuk meyakinkan kelengkapan dan ketetapannya.
Demikian pula perintah-perintah
lisan dapat dikonfirmasi secara tertulis apabila penyampaiannya harus
diverifikasi dan menjadi dokumentasi. Agar komunikasi lisan dapat berhasil
dengan baik perlu dipersiapkan terlebih dahulu. Di antaranya beberapa langkah
persiapannya adalah pemilihan subjek, menentukan tujuan, menganalisis
pendengan, mengumpulkan materi, menyusun garis-garis besar apa yang akan
dikomunikasikan dan praktik berbicara dengan tenang. Sedangkan dalam komunikasi
tulisan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, diantaranya penampilan
komunikasi, pemilihan kata- kata yang digunakan.[4]
Untuk setiap bidang operasi, sebaiknya penerima perintah diberi perintah-perintah hanya dari satu sumber saja. Kelebihan perintah akan membingungkan dan menjadi sia-sia. Urgensi peritah harus jelas dan keyakinan terhadap arti dan tujuan sangat diperlukan. Untuk mendapatkan kepercayaan terhadap suatu perintah diperlukan suatu keterangan cermat yang menjelaskan “alasan dari penugasan tersebut”.
Di dalam memberikan perintah, juga digunakan instruksi-instruksi yang menunjang pengetahuan tentang aspek untuk melaksanakan suatu tugas tertentu. Demikian pula, untuk dapat mengikuti tujuannya maka diliput berbagai situasi, diberi data yang terperinci dan urutan langkah-langkah yang harus di tempuh.
Instruksi-instruksi sulit dituliskan dan banyak memakan waktu. Walaupun demikian, instruksi-instruksi semakin banyak digunakan, terutama karena:
a) Memungkinkan penerimanya melanjutkan pekerjaan yang telah disetujui;
b) Informasi teknik kerja dapat ditetapkan dan distandarisasi
c) Menjamin kesamaan produk
Al Qur'an surat Âl-´Imrân ayat 104
وَ لْتَكُنْ مِّنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُوْنَ إِلَى اْلخَيْرِ وَ يَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَ يَنْهَوْنَ عَنِ اْلمُنْكَرِ وَأُوْلَئِكَ هُمُ اْلمُفْلِحُوْنَ
Artinya : Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma´ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.
Memberi Perintah
Memberi perintah adalah fungsi atau tugas dari pimpinan. Bila rencana pekerjaan sudah tersusun,struktur organisasi sudah ditetapkan dan posisi – posisi atau jabatan – jabatan dalam stuktur organisasi atau dalam perusahan-perusahaan sudah diisi, berkewajibanlah pimpinan untuk menggerakan bawahan, memutar roda mesin perusahaan dan mengkoordinir, agar apa yang menjadi tujuan perusahaan dapat direalisir.[5]
Sudah dimaklumi bahwa pimpinan itu adalah orang yang menghasilkan sesuatu melalui bawahannya. Bawahanya hanya menghasilkan sesuatu yang diinginkan atasannya,bila atasan itu memerintah bawahan tersebut untuk berbuat atau tidak berbuat. Sesuai dengan ayat as-Sajdah ayat 24
وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُوْنَ بِأَمْرِنَالَمَّا صَبَرُوْا وَكَانُوْابِأَيَتِنَا يُوْقِنُوْنَ
Artinya: Dan kami
jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah kami ketika mereka sabar. dan adalah mereka meyakini ayat-ayat kami.
ujuan pemberian perintah
Tujuan utama dalam pemberian perintah oleh atasan kepada bawahan adalah untuk mengkoordinir kegiatan bawahan,agar kegiatan masing-masing bawahan yang beraneka ragam macam itu terkoordinir kepada suatu perintah yaitu kepada tujuan perusahaan
Unsur – unsur perintah
- Instruksi resmi
- Dari atasan kepada bawahan
- Mengerjakan atau tidak mengerjakan sesuatu hal
- Realisasi tujuan perusahaan
Prisip – prinsip perintah
a. Perintah
harus jelas
b. Perintah
diberi satu persatu
c. Perintah
harus positif
d. Perintah
harus diberikan kepada orang yang tepat
e. Perintah
harus erat dendan motivasi
f. Perintah
dalam aspek berkomunikasi
Perspektif Islam dalam kesatuan perintah dapat
dilihat dari bagaimana hubungan antara seorang atasan dengan bawahan yang saling
bertanggung jawab dan disiplin sehingga menjalin suatu sinergi yang saling
mendukung dalam mencapai tujuan. Seorang pemimpin harus memiliki salah satunya
sifat ;
Terbuka
Yang dimaksud
dengan terbuka disini bukan saja terbuka dalam memberikan informasi yang benar
tetapi juga mau memberi dan menerima saran/pendapat orang lain, terbuka
kesempatan kepada semua pihak, terutama staff untuk mengembangkan diri sesuai
dengan kemampuannya baik dalam jabatan maupun bidang lainnya. Al-Qur’an telah
memberikan landasan kepada kaum muslim untuk berlaku jujur dan adil yang mana menurut kami hal ini
merupakan kunci keterbukaan, karena tidak dapat dilakukan keterbukaan apabila
kedua unsur ini tidak terpadu.
Ayat al-Qur’an yang menyuruh
umat manusia untuk berlaku jujur dan adil yang keduanya merupakan kunci
keterbukaan itu, ada dalam surat An-Nisa ayat 58 sebagai berikut:
Artinya: Sesungguhnya Allah
menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh
kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan
adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu.
Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha Melihat.
Menurut Jeane H.
Ballantine dalam bukunya “sociology of educational” sebagai berikut:
Principals have power to
influence school evectiveness through their leadership and interaction. In the
successful school, principals met teachers regularly ask for suggestions and
give teacher information concerning effectifiness, principals rarely act alone.[7]
Dari pernyataan
diatas jelas bahwa manajer mempunyai kekuasaan untuk mempengaruhi keefektifan
perusahaan melalui kepemimpinannya dan interaksi mereka. Sedangkan menurut
Malayu Hasibuan dalam manajemen terbuka sebelum mengambil suatu keputusan
terlebih dahulu memberikan kesempatan kepada karyawan, memeberikan saran, pendapat-pendapat,
tegasnya manajer mengajak karyawan untuk
- Ikut serta memikirkan kesulitan organisasi dan usaha-usaha pengembangannya.
- Mereka tahu arah yang diambil organisasi sehingga tidak ragu-ragu lagi dalam melaksanakannya.
- lebih berpartisipasi dalam masing-masing tugasnya.
- Menimbulkan suatu yang sehat sambil berlomba-lomba mengembangkan inisiatif dan daya inovatifnya.[7]
[1] Wahyu adji, Suwerli, Suratno, Ekonomi
Jilid 3 SMA, (Jakarta:
Erlangga,2007) h.159.
[2] Manajemen
Penerbitan Pers karya Drs. Totok Djuroto
[3] Drs. M.Mannullang, Dasar-dasar Manejemen, (Jakarta Timur : Ghalia Indonesia,1998).
hlm.38.
[4] Manajemen Penerbitan Pres karya Drs. Totok Djuroto
[5] Dr. T.Hani Handoko M.B.A, Manajemen, ed.2,(Yogyakarta: BPFE/Yogyakarta,2003).hlm.233.
[6] http://www.alumnigontor.blogspot.com/2008/04/konsep-manajemen-dalam-perpektif-al.html
[7] Malayu Sibuan, Manajemen Dasar Pengertian dan Masalah, (CV. Haji Mas Gus, Jakarta: 1989)
[4] Manajemen Penerbitan Pres karya Drs. Totok Djuroto
[5] Dr. T.Hani Handoko M.B.A, Manajemen, ed.2,(Yogyakarta: BPFE/Yogyakarta,2003).hlm.233.
[6] http://www.alumnigontor.blogspot.com/2008/04/konsep-manajemen-dalam-perpektif-al.html
[7] Malayu Sibuan, Manajemen Dasar Pengertian dan Masalah, (CV. Haji Mas Gus, Jakarta: 1989)
Komentar
Posting Komentar