Kehidupan modern penuh dengan
aneka tekanan psikologis yang kerap dihadapi oleh banyak orang. Tekanan
psikologis sebenarnya bukanlah sesuatu yang negatif, tetapi cara kita
menghadapi tekanan tersebut terkadang sering keliru. Ini merupakan hasil
berbedanya kecenderungan manusia untuk menanggapi (menyikapi) tekanan-tekanan
psikologis tersebut.
Ada orang yang dapat menguasai tekanan dirinya, dan mampu berinisiatif cepat dalam menghadapi atau menolak berbagai tekanan. Ada juga orang yang cukup lama terpengaruh dan merasa tertekan atas kondisi yang menimpanya. Ada pula di antara mereka justru tunduk dengan kondisi yang dialaminya.
Ada orang yang dapat menguasai tekanan dirinya, dan mampu berinisiatif cepat dalam menghadapi atau menolak berbagai tekanan. Ada juga orang yang cukup lama terpengaruh dan merasa tertekan atas kondisi yang menimpanya. Ada pula di antara mereka justru tunduk dengan kondisi yang dialaminya.
Ibnu Abbas RA. pernah ditanya, manakah yang lebih berbahaya bagi tubuh, apakah marah (emosi) ataukah sedih? Ibnu Abbas menjawab, "Aliran kedua sikap ini (marah dan sedih) adalah satu (sama), namun maknanya berbeda. barangsiapa berselisih dengan orang yang lebih kuat, akibatnya ia memendam, dan ia pun akan menjadi sedih. Sedangkan barangsiapa berselisih dengan orang yang lebih lemah, ia pun akan menujukkan amarah (cenderung emosional)."
Semoga Allah merahmati Ibnu Abbas, dan alangkah bijaknya dia. Aliran sedih dan marah itu satu, dan keduanya meningkat dengan tingkat adrenalin. Dan keduanya juga meningkatkan tekanan darah, serta membahayakan hati. Rasulullah SAW telah menganalogikan marah dengan bara api yang menyala di dalam hati. Beliau bersabda,
إِنَّ اْلغَضَبَ جَمْرَةٌ تُوقَدُ فِي اْلقَلْبِ
“Sesungguhnya marah adalah bara api yang menyala di dalam hati.”
Dan sabda beliau SAW,
مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَ هُوَ يَقْدِرُ عَلَى انْفَاذِهِ مَلَأَ اللهُ قَلْبَهُ أَمْنًا وَإِيْمَانًا
“Barangsiapa
dapat menahan amrah padahal ia sanggup menumpahkannya, (maka)Allah akan
memenuhi hatinya rasa aman dan iman.” (HR. Abu Ad-Dunya)
Allah SWT berfirman,
“(Yaitu) orang-orang yang menfkahkan (hartanya), baik pada waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran [3]: 134)
Rasulullah SAW mengajarkan agar orang yang marah, gelisah, atau sedih untuk
berwudhu dengan air dan mengerjakan shalat.
Beliau bersabda
إِنَّ الْغَضَبَ مِنَ الشَّيْطَانِ وَإِنَّ الشَّيْطَانَ خُلِقَ مِنَ النَّارِ وَإِنَّمَا تُطْفِأُ النَّارَ بِالْمَاءِ فَإِذَا غَضَبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَتَوَضَّأْ
“Sesungguhnya
marah adalah dari setan, dan sesungguhnya setan diciptakan dari api. Dan api dapat
dipadamkan dengan air. Maka, jika salah seorang dari kalian marah, hendaknya ia
(segera) berwudhu.” (HR. Abu Daud)
Dan jika Nabi SAW disusahkan oleh sebuah urusan, maka beliau akan segera meminta pertolongan dengan mengerjakan shalat. Nabi SAW bersabda,
جُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي لِلصَّلَاة
“Telah
dijadikan permata hatiku dalam shalat.”
Dalam sebuah tulisan penting karya Dr. Syuruq Beizun yang berjudul “Islam dan Menjaga Kesehatan”, disebutkan, “Sesungguhnya syariat Islam dalam urusan bersuci (thaharah) adalah contoh yang baik bagi perlindungan terhadap banyak penyakit. Cara-cara bersuci yang sempurna, bermanfaat bagi kesehatan, dan seharusnya menjadi contoh bagi banyak agama lainnya. Tidak ada dalam ajaran agama mana pun yang memiliki perhatian kepada aspek kesucian dan kebersihan sebagaimana yang Islam ajarkan. Dan ilmu-ilmu serta riset-riset modern pun telah menguatkannya. Yang dibawa oleh syariat ini (Islam), merupakan ajaran terbesar dan tertua di dunia. Ia membawa ajaran yang jelas tentang perlindungan dan pengobatan. (Karena itu), kesucian dalam dunia Islam harus dikedepankan, karena mereka akan terjebak kesalahan besar jika menyepelekan ajaran dan sunah ini (thaharah dan kebersihan).
Dalam kitab Al-Musnad karya Al-Bazzar, disebutkan sebuah Hadits dari Nabi SAW beliau bersabda,
إِنَّ الله طَيِّبٌ يُحِبُّ نَظِيْفٌ يُحِبُّ النَّظَافَةَ كَرِيْمٌ يُحِبُّ الكَرَمَ جَوَادٌ يُحِبُّ اْلجُوْدَ فَنَظِّفُوا أُرَاهُ قَالَ أَفْنِيَتَكُمْ وَلَا تَشَبَّهُوا بِالْيَهُودِ يَجْمَعُونَ الأَ كبَ فِي دُوَرِهِمْ
"Sesungguhnya Allah itu bagus dan mencintai sesuatu yang bagus, (Allah itu) bersih dan mencintai kebersihan, murah hati dan mencintai kemurahan hati, Maha Dermawan dan mencintai kedermawanan. (Karena itu) bersihkanlah halaman-halaman rumah dan pekarangan kalian, dan janganlah menyerupai kaum Yahudi yang suka mengumpulkan sampah di dalam rumah-rumah mereka.” (HR. Tirmidzi. Hadits dha’if. Takhrijnya telah disebutkan)
Islam
telah mewajibkan mandi wajib dan membersihkan diri dalam banyak hal. Mengenai
kewajiban mandi junub, seperti telah
Allah SWT firmankan,
“Hai orang-orang
yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga
kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula menghampiri masjid) sedang
kamu dalam keadaan junub, kecuali sekadar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu
sakit atau sedang dalam musafir atau
kembali dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh
perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan
tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha
Pemaaf lagi Maha Pengampun.” (QS An-Nisa` [4]: 43)
Dengan demikian, Islam telah memerintahkan untuk
membersihkan (mandi) seluruh tubuh secara sempurna, jika seorang lelaki
menggauli istrinya atau bermimpi walau tidak mengeluarkan mani.
Banyak Hadits-hadits Nabi SAW juga menguatkan perintah
tersebut. Hikmah dari perintah ini adalah kembalinya kesegaran tubuh,
membersihkan sel-sel, dan memberikan kesegaran tubuh hingga kemudian tubuh
dapat menjalankan kewajiban-kewajiban dengan baik. Mengenai Sunah-sunah wudhu
dan mandi, silahkan meujuk kepada buku-buku tentang Sunah.
Rasulullah SAW biasanya mandi dalam empat kondisi: mandi
karena junub, mandi untuk shalat jum’at, mandi setelah berbekam, dan mandi
setelah memandikan jenazah. Ada lagi jenis mandi wajib lainnya. Seperti mandi
suci dari haid dan nifas bagi wanita. Allah SWT berfirman dalam menggambarkan ashhabus-shuffah:
“Janganlah kamu
bersembahyang dalam masjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya masjid yang
didirikan atas dasar takwa (masjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut
kamu bersembahyang di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin
membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih.” (QS
At-Taubah [9]: 108)
Maksudnya, mereka suka untuk menyucikan diri dari hadats, junub, dan berbagai najis dengan
air. ‘Atha T berkata, “Mereka beristinja dengan menggunakan air, dan mereka
tidak tidur pada malam hari saat junub,”
Dunia kedokteran telah membuktikan bahwa memandikan badan
dan menghilangkan kotoran-kotoran yang ada di tubuh dengan air dapat
menyegarkan tubuh, merangsang saraf, membuka pori-pori, dan mempermudah
pernapasan.
Kebersihan baju juga dapat menjaga tubuh dari berbagai
penyakit. Seperti yang biasa terjadi pada pakaian yang kotor dan bernajis.
Allah SWT berfirman,
“Hai anak Adam,
pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah,
dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang
yang berlebih-lebihan.” (QS Al-A`raf [7]: 31)
Rasulullah
SAW juga bersabda,
إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا الطَّيِّبَ
“Sesungguhnya allah itu bagus (baik) dan hanya menerima yang bagus (baik)..” (HR. Muslim, hadits dari Abu Hurairah RA)
Sumber: Buku terapi air, Qultummedia

Komentar
Posting Komentar