Allah SWT berfirman,
"Yang demikian itu ialah Tuhan Yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang, Yang membuat segala sesuatu yang dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani). Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh) nya ruh (ciptakan) -Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur." (QS As-Sajdah [32]: 6-9)
Makna Air dalam ayat-ayat di atas disebutkan dalam pengertian nuthfah (cairan reproduksi). Makna ini empat kali diulang dalam Al-Qur'an. Allah SWT dengan gamblang menceritakan proses penciptaan manusia dari tanah liat. Namun, tak satu pun malaikat diperintahkan untuk bersujud kepada makhluk ini, kecuali setelah ditiupkan padanya ruh.
"Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud." (QS Al-Hijr [15]: 29)
Hal ini jelas merupakan penghormatan yang secara khusus diperuntukkan kepada manusia, bukan makhluk-makhluk lainnya.
"Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan." (QS Al-Isra` [17]: 70)
Allah SWT menghendaki penciptaan manusia dilakukan dari air yang hina (sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an), yaitu air laki-laki (cairan sperma) dan air perempuan (sel telur), sehingga begitulah proses penciptaan terjadi berulang-ulang. Dari air hina itu akan terbentuk suatu gumpalan (nuthfah) yang kemudian berkembang menjadi gumpalan darah ('alaqah), lalu menjadi gumpalan daging (mudhghah). Gumpalan daging ini akan terbentuk dan berubah menjadi makhluk. Dan makhluk apakah itu? Abdullah bin Mas'ud RA berkata, Rasulullah SAW bersabda,
إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةَ مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يَبْعَثُ اللهُ مَلَكًا فَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ وَيُقَالُ لَهُ اكْتُبْ عَمَلَهُ وَرِزْقَهُ وَأَجَلَهُ وَشَقِيٌّ أَوْسَعِيْدٌ ثُمَّ يُنْفَخُ فِيْهِ الرُّوحُ
"Sesungguhnya seorang dari kalian telah terkumpul menjadi makhluk di dalam perut ibunya selam empat puluh hari, kemudian menjadi gumpalan darah dalam masa yang sama, kemudian menjadi gumpalan darah (embryo) dalam masa yang sama, kemudian allah mengutus seorang malaikat yang diperintahkan dengan kata, dan dikatakan kepadanya, 'Catatlah semua amalnya, rezekinya, ajalnya, kemudian ditiupkan kepadanya ruh'." (HR Bukhari dan Muslim)
Jika di atas telah dipaparkan proses penciptaan, maka tentang proses perpisahan Allah SWT memaparkannya dalam Firman-Nya,
"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada Hari Kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah berutung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan." (QS ali-`Imran [3]: 185)
Dan tentang proses pengembalian, Allah SWT berfirman,
"Dan (ingatlah_ akan hari (yang ketika itu) kami perjalankan gunung-gunung dan kamu akan melihat bumi itu datar dan kami kumpulkan seluruh manusia, dan tidak kami tinggalkan seorang pun dari mereka." (QS Al-Kahfi [18]: 47)
Kemuliaan tentang hari kebangkitan, Dia berfirman,
"Kemudian, sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati. Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di Hari Kiamat." (QS al-Mukminum [23]: 15-16)
Artinya, kematian bagi setiap makhluk hidup pastilah akan datang. Bahkan bagi malaikat sekalipun dan segenap makhluk lainnya yang tidak teraba oleh pancaindera kita, seperti jin dan setan.
Beberapa sumber Hadits menjelaskan bahwa Malaikat Maut adalah makhluk yang terakhir mati di antara para malaikat. Kemudian segala sesuatu yang ada di atas bumi pun menjadi fana.
"Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu Yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan." (QS Ar-Rahman [55]: 27).
Lalu tinggallah Sang Maha Raja, Maha Hidup Kekal, Pemilik segala sesuatu dan maha Pencipta segalanya.
Sumber: Buku terapi air, Qultummedia
Sumber: Buku terapi air, Qultummedia

Komentar
Posting Komentar