Mukjizat Al-Qur'an dan Sunah Nabi SAW Seputar Ilmu Kesehatan, Ilmu Anatomi, dan Lingkungan

 Di dalam Al-Qur'an dan Hadits-hadits Nabi Muhammad SAW terdapat fakta-fakta sains yang tidak pernah tersentuh oleh ilmu pengetahuan, kecuali setelah diturunkan wahyu dalam bentuk ayat-ayat, atau melalui Hadits-hadits Nabi SAW empat belas abad yang lalu. Realitas ini dibenarkan oleh Firman Allah SWT,

 "Dan sesungguhnya kamu akan mengetahui (kebenaran) berita Al-Qur'an setelah beberapa waktu lagi." (QS Shaad [38]: 88)

 Ayat-ayat dan kandungan Hadits-hadits tersebut telah diajarkan oleh Allah Yang Maha Esa kepada nabi-Nya secara ilahiyah, sehingga akal manusia tidak dapat mencerna realitas-realitas tersebut, kecuali belakangan ini. Ayat-ayat allah masih saja dan akan selalu menyibak realitas-realitas tersembunyi sampai tibanya Hari Kiamat. Allah SWT berfirman,

 "Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: "Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit." (QS Al-Isra` [17]: 85)

 Ilmu pengetahuan manusia sangatlah terbatas, bertambah dan berkurang, atau membeku setiap kali sains dan pengetahuan mengalami perkembangan. Sementara ilmu Allah luar biasa luas dan pasti, tidak dapat diragukan atau diubah. Untuk itu, para ilmuwan muslim hendaknya berkiblat padanya dan menjadikannya sebagai standar ukur yang melandasi setiap riset ilmiah yang mereka lakukan.

 Titik pemberangkatan inilah yang kemudian dapat meluruskan jalannya perkembangan sains dan pengetahuan Islam agar kembali menempati kejayaannya seperti dulu. Sudah diketahui, bahwa pengutusan para Rasul tidak dilakukan kecuali untuk memberi petunjuk kepada manusia ke arah pengesaan Allah SWT, kemudian menyelamatkan mereka dari kebodohan masa jahiliah dan mas berhala menuju cahaya iman dan keyakinan.

 Untuk itu, Rasulullah SAW bukanlah seorang dokter spesialis, dan tidak pernah memiliki target ke arah itu. Namun, Allah SWT telah menganugerahinya ilmu dari ilmu-Nya yang Maha Luas. hal ini dibenarkan dalam Firman Allah SWT,

 "Sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu, tentulah segolongan dari mereka berkeinginan keras untuk menyesatkanmu. Tetapi mereka tidak menyesatkan melainkan dirinya sendiri, dan mereka tidak dapat membahayakanmu sedikit pun kepadamu. Dan (juga karena) Allah telah menurunkan Kitab dan hikmah kepadamu, dan telah mengajarkan kepadammu apa yang belum kamu ketahui. Dan adalah karunia Allah sangat besar atasmu." (QS an-Nisa` [4]: 113)

Air dalam kesehatan

 Kedokteran yang diterapkan oleh Nabi SAW dapat dibagi menjadi empat kategori utama, di antaranya sebagai berikut.

  1. Pengobatan berbagai penyakit dangan ramuan tumbuhan.
  2. Pencegahan penyakit untuk menjaga kesehatan manusia dan lingkungan.
  3. Ilmu kedokteran anatomis yang telah diakui kemukjizatannya oleh sains modern dengan berbagai tolak ukurnya.
  4. Ilmu kedokteran jiwa (psikologi) yang dapat menjaga keseimbangan iman dan jiwa manusia.
 Dengan singkat, kami akan fokus pada dua cabang ilmu kedokteran: pencegahan penyakit (preventif disease) dan ilmu kedokteran anatomi. Pengobatan dengan ramuan tumbuh-tumbuhan dalam Sunah Nabi SAW telah menjadi hal biasa dan cukup dikenal serta diakui melalui berbagai percobaan serta keyakinan. Sedangkan kedokteran jiwa (psikologi) adalah hal utama yang dituju oleh seluruh Nabi dan Rasul utusan Allah SWT melalui iman, tawakal, serta berpegang teguh pada ketentuan dan jalan Allah SWT.

 Pencegahan Penyakit untuk Menjaga Kesehatan Manusia dan Lingkungan
 Dalam mencegah berbagai penyakit, menjaga kesehatan manusia, dan lingkungan, Sunah Nabi SAW menerapkan berbagai ketentuan sebagai berikut.
  • Kebersihan individu; hal ini diterapkan melalui kewajiban berwudhu dan mandi. Sehingga kedua hal tersebut menjadi syarat penentu sah atau tidaknya suatu ibadah. Dalam banyak ajaran Nabi SAW telah dipaparkan berbagai Sunah yang sarat dengan fitrah serta kebersihan.
  • Kebersihan lingkungan; hal itu mencakup pemeliharaan kebersihan sumber-sumber air, jlan-jalan umum, tempat-tempat berteduh, halaman rumah, masjid, dan juga etika-etika makan dan minum.
 Dasar-dasar ilmu pencegahan penyakit telah dirilis sejak empat belas abad yang lalu dalam tingkat pengetahuan yang sangat tinggi dan belum dideteksi oleh pengetahuan manusia sebelum dua abad belakangan ini. Dasar-dasar tersebut contohnya:
  • Pencegahan dari penyakit-penyakit seks, dengan cara mengharamkan zina serta homoseksual, dan senantiasa mendorong serta mendukung pernikahan.
  • Pencegahan yang menolak penularan penyakit. itu dilakukan melalui pengharaman memakan bangkai, daging babi, dan sebagainya.
  • Pencegahan dengan menghindari budaya-budaya buruk seperti pengharaman terhadap maysir (judi), ramalan, sihir, dan lain sebagainya.
  • Pencegahan dengan menghindari perbuatan-perbuatan keji, seperti minum-minuman keras.
  • Pencegahan dengan memotivasi kegiatan-kegiatan olahraga seperti berenang, memanah, dan berkuda.
  • Pencegahan dengan mengobati penyakit-penyakit hati dan jiwa melalui penjauhan terhadap perbuatan-perbuatan maksiat.

Sumber: Buku terapi air, QultumMedia

Komentar