Tajamkan Pendidikan Islami

Meningkatkan mutu pendidikan
Judul                : Pendidikan Islam Dalam Mencerdaskan Bangsa
Penulis             : Prof. Dr. H. Haidar Putra Daulay, M. A.
                           Dra. Hj. Nurgaya Pasa, M. A.
Penerbit           : Rineka Cipta
Cetakan           : Mei, 2012
Halaman          : IX + 178

Ada ciri khas yang bisa ditemui pada tulisan Prof. Dr. H. Haidar Putra Daulay, M. A. ini, yakni kutipan suatu pernyataan buku yang tentu saja mempunyai relevansi dengan tulisan yang disajikan. Tidak saja relevansi, tetapi menambah bobot tulisan.

Kehadiran buku ‘Pendidikan Islam dalam Mencerdaskan Bangsa’ ini merupakan usaha untuk membongkar awal pendidikan islam, pertumbuhannya, dan berbagai factor social yang menjadi penyebab munculnya pendidikan Islam di Indonesia. Dengan berbagai sampel yang diambil oleh penulis mulai dari Indonesia hingga Mesir yang membuat sampel itu representative.

Sesuai dengan firman Allah tentang dasar ilmu pengetahuan, “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakan kepada malaikat, lalu berfirman “Sebutkanlah kepadaKu nama benda-benda jika kamu memang orang-orang yang benar.” (AL-Baqarah : 31). Atas dorongan ayat dan hadist tentang ilmu pengetahuan, umat islam pada periode pertengahan mencapai puncak kemajuan dan menjadi mercu-suar ilmu pengetahuan di dunia. Setelah semangat mengembangkan ilmu pengetahuan itu melemah, maka umat Islam mengalami fase kemunduran, dan pada fase kemunduran itu pulalah ilmu menjadi dikotomis (hlm. 15). Hal ini patut diprihatinkan terhadap pendidikan Islam untuk kedepannya apabila terus berlanjut sesuai yang diungkapkan penulis.

Buku yang diterbitkan Rineka Cipta dengan jumlah 178 halaman ini berbeda dengan buku-buku yang mengupas kajian pendidikan Islam lainnya. Perbedaannya kian tampak, ketika setiap bab ada tips yang bermanfaat sekaligus lebih mendalam bagi pembacanya sesuai dengan sub judul yang dikupas. Singkatnya, ada ringkasan sederhana. Sehingga tak akan mengalami kesalahan dalam memahami maksud penulis, karena ia sendiri membuat ringkasan, meski dalam bentuk tips.

Ada empat bab yang dibahas penulis di dalam buku ini, dan setiap bab terdiri dari sub-sub bab. Empat bab tersebut adalah, hakikat pendidikan islam, pendidikan tinggi Islam di Indonesia, pemberdayaan pendidikan, dan partisipasi masyarakat terhadap pendidikan.

Satu hal lagi, yang membuat buku ini menarik terlihat dalam nilai sosial dan affirmative action. Jadi penekanan pada upaya pencapaian efisiensi, efektivitas, dan produktivitas seperti yang banyak diungkapkan di buku-buku lain di sini terasa lebih kaya. Apalagi, dalam setiap pembahasan mengenai pendidikan yang berkembang, dibahas lebih rinci aplikasinya dalam pendidikan. Ini sangat membantu dalam mengantisipasi perubahan yang cenderung terjadi dalam proses pembelajaran untuk era global.

Sejatinya, buku ini menjadi kian menarik ketika penulis menyelipkan tokoh-tokoh yang memperdalami pendidikan Islam, meski tidak semua bahasan dikupas diselipkan tokoh. Bisa jadi mungkin, pembahasan yang dimaktubkan adalah apa yang dialami penulis sendiri. Keberadaan tokoh tersebut membuat pembaca tak bosan. Pasalnya, pembaca bukan hanya membaca pembahasan penulis, tapi juga ada tokoh yang mengiringinya. Sayangnya, tak semua bahasan ada tokoh. Berbeda dengan tips yang selalu menghiasi bahasan buku ini.

Meski demikian, kekurangan yang sedikit tersebut tak merusak hakikat dari buku yang memiliki judul besar tersebut. Buku ini layak dibaca oleh siapa saja. Mau tua ataupun muda. Pasalnya, setiap manusia pasti pernah mendapatkan pendidikan, walaupun tidak langsung seperti sekolah yang secara akademik. Buku ini akan menyadarkannya, bahwa pendidikan yang Islami lebih baik dan menunjukkan kecintaannya kepada Allah dalam ilmu.


Peresensi, Mahasiswa IAIN SU jurusan Ekonomi Islam

Komentar